Tegal – Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental di kalangan mahasiswa serta pesatnya perubahan dunia kerja akibat perkembangan teknologi, perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki ketangguhan mental, kemampuan beradaptasi, dan kesiapan menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Pendidikan dan Psikologi Universitas Harkat Negeri menyelenggarakan Kuliah Pakar EDUPSY Anniversary bertajuk "Edupsy Expert Lecture: Positive Mind, Positive Future: Membangun Mahasiswa yang Sehat Mental, Siap Berkarier, dan Adaptif Menghadapi Masa Depan" pada 3 Agustus 2026. Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis Universitas Harkat Negeri ini diikuti oleh sekitar 80 peserta, yang terdiri atas mahasiswa serta masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap isu kesehatan mental dan pengembangan diri.
Kuliah pakar menghadirkan dua narasumber, yaitu Ferdian Permana, M.Psi., Psikolog dan Okta Bagus Santoso, S.Pd., M.Pd. Keduanya menyampaikan materi yang saling melengkapi mengenai pentingnya membangun kesehatan mental, mengembangkan pola pikir positif, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja dan kehidupan di masa depan.
Mengawali sesi pertama, Ferdian Permana mengangkat fenomena future anxiety atau kecemasan terhadap masa depan yang banyak dialami mahasiswa ketika mulai memikirkan perkuliahan, karier, maupun kehidupan setelah lulus. Menurutnya, kecemasan bukanlah sesuatu yang harus selalu dihindari. Selama masih berada dalam batas yang wajar dan belum berkembang menjadi anxiety disorder, rasa cemas justru dapat menjadi dorongan bagi seseorang untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Ia menjelaskan bahwa membangun kesehatan mental tidak cukup hanya dengan berpikir positif. Seseorang tidak harus selalu merasa bahagia atau menyembunyikan emosi negatif. Perasaan sedih, kecewa, marah, maupun takut merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan dan perlu diterima sebagai bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih matang.
"Yang terpenting adalah bagaimana seseorang mampu mengenali, menerima, dan mengelola emosi tersebut secara sehat tanpa terjebak pada toxic positivity."
Selain itu, Ferdian menjelaskan pentingnya membangun resiliensi, yaitu kemampuan seseorang untuk bangkit kembali setelah mengalami kegagalan atau menghadapi kesulitan. Menurutnya, individu yang memiliki kesehatan mental yang baik bukan berarti tidak pernah mengalami masalah, melainkan mampu kembali ke kondisi yang stabil, belajar dari pengalaman, dan melihat tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang.
Ia juga mengajak peserta memahami bahwa pikiran memiliki pengaruh besar terhadap emosi dan perilaku. Pikiran negatif, seperti merasa tidak mampu menyelesaikan tugas atau menganggap skripsi sebagai sesuatu yang mustahil diselesaikan, dapat menimbulkan rasa takut hingga membuat seseorang menghindari tantangan. Sebaliknya, pola pikir yang terbuka terhadap proses belajar akan membantu seseorang terus berkembang.
Dalam kesempatan tersebut, Ferdian mengajak mahasiswa mulai mengubah fixed mindset menjadi growth mindset dengan langkah sederhana, yaitu mengganti kalimat "Saya tidak bisa" menjadi "Saya belum bisa." Menurutnya, perubahan cara berpikir tersebut dapat membangun keyakinan bahwa setiap kemampuan dapat berkembang melalui proses belajar dan latihan.
Ferdian juga membagikan berbagai kebiasaan sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan mental, seperti meningkatkan self-awareness, tidak merendahkan diri sendiri, menjaga pola hidup sehat, memperkuat hubungan sosial, fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, serta tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan. Ia mengingatkan mahasiswa agar lebih banyak mempersiapkan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan daripada terus-menerus mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Pada sesi kedua, Okta Bagus Santoso mengajak peserta memahami bahwa berbagai persoalan psikologis yang banyak dialami generasi muda, seperti overthinking, kecemasan, insecure, depresi, hingga trust issue, sering kali dipengaruhi oleh cara seseorang memandang dan memaknai suatu peristiwa.
Menurutnya, setiap pengalaman akan diproses melalui persepsi. Persepsi tersebut kemudian membentuk emosi, memengaruhi tindakan, dan akhirnya menentukan hasil yang diperoleh seseorang. Karena itu, dua orang yang mengalami peristiwa yang sama dapat memberikan respons yang sangat berbeda karena memiliki cara pandang yang berbeda pula.
Ia menjelaskan konsep "The Map is Not the Territory", yaitu bahwa persepsi seseorang bukanlah realitas yang sebenarnya. Cara seseorang melihat sebuah masalah belum tentu mencerminkan kondisi yang sesungguhnya, sehingga mengubah cara memandang suatu peristiwa dapat menjadi langkah awal untuk mengubah kehidupan.
Okta kemudian menjelaskan beberapa cara untuk mereprogram pola pikir. Salah satunya adalah mengubah kondisi fisiologis melalui pengaturan napas, memperbaiki postur tubuh, tersenyum, atau mengubah intonasi suara. Selain itu, ia juga memperkenalkan teknik reframing, yaitu mengubah cara memaknai suatu pengalaman sehingga masalah dapat dipandang sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Ia juga menekankan bahwa fokus seseorang akan menentukan informasi apa yang dicari oleh otaknya. Ketika seseorang terus berfokus pada hambatan, maka hambatan itulah yang akan lebih banyak terlihat. Sebaliknya, apabila fokus diarahkan pada tujuan dan solusi, maka otak akan lebih mudah menemukan peluang untuk berkembang.
"Berpikir positif bukan berarti mengabaikan kenyataan atau menolak masalah, melainkan memilih respons yang mampu memberdayakan diri agar tetap dapat berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan."
Sebagai bagian dari pengembangan diri, Okta juga memperkenalkan teknik self-hypnosis dan visualisasi positif untuk memperkuat keyakinan terhadap tujuan yang ingin dicapai. Menurutnya, perubahan besar selalu diawali dari perubahan cara berpikir dan cara seseorang memaknai setiap pengalaman hidup.
Sesi diskusi berlangsung secara interaktif. Salah seorang peserta menanyakan apakah tantangan terbesar terhadap kesehatan mental mahasiswa lebih banyak berasal dari faktor internal atau faktor eksternal. Menanggapi hal tersebut, Ferdian menjelaskan bahwa kedua faktor memiliki pengaruh yang sama penting. Faktor internal meliputi pola pikir, kemampuan mengelola emosi, dan cara seseorang memaknai suatu peristiwa, sedangkan faktor eksternal dapat berasal dari lingkungan keluarga, pertemanan, tekanan akademik, media sosial, maupun perubahan dunia kerja. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa setiap individu tetap memiliki kendali terhadap cara berpikir, bersikap, dan merespons situasi yang dihadapi.
Pertanyaan lain yang menarik datang dari peserta mengenai cara menerapkan mindfulness dalam kehidupan mahasiswa. Menjawab hal tersebut, Okta menjelaskan bahwa mindfulness dapat dilatih dengan membiasakan diri hadir secara utuh dalam setiap aktivitas, mengurangi distraksi dari telepon genggam, berolahraga, memperbanyak interaksi dengan lingkungan sekitar, serta menyediakan waktu untuk beristirahat dari berbagai tuntutan akademik. Ia juga mendorong mahasiswa untuk mengikuti pelatihan mindfulness apabila memiliki kesempatan agar pemahaman dan praktiknya menjadi lebih optimal.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan yang diajukan menunjukkan tingginya kepedulian mahasiswa terhadap isu kesehatan mental, pengembangan diri, dan kesiapan menghadapi masa depan. Diskusi yang berlangsung hangat tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga membuka ruang refleksi bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, melainkan juga oleh kemampuan mengelola emosi, membangun pola pikir yang sehat, serta terus mengembangkan kompetensi diri.
Melalui penyelenggaraan Kuliah Pakar EDUPSY Anniversary ini, Fakultas Pendidikan dan Psikologi Universitas Harkat Negeri kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa di era modern. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi ruang inspirasi bagi mahasiswa dan masyarakat untuk membangun kesehatan mental, meningkatkan resiliensi, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan pola pikir yang positif, adaptif, dan berorientasi pada solusi. Sejalan dengan tema yang diusung, "Positive Mind, Positive Future", kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan yang baik tidak hanya dibangun melalui kecerdasan intelektual, tetapi juga melalui kesehatan mental yang terjaga, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar, bertumbuh, serta saling menginspirasi sesuai dengan semangat "Together We Learn, Together We Inspire, Together We Grow."
Administrator S-1 Psikologi
Civitas Akademika